Type something and hit enter

author photo
Oleh On

PATHOL SARANG:  SENI PENCARIAN PENDEKAR
MASYARAKAT NELAYAN DI KABUPATEN REMBANG

Oleh: Khaolil Mudlaafar

SINOPSIS

Dlofar teringat folklor yang masih lestari di wilayah Rembang, lalu ia menceritakan kepada Lathif, temannya. Pathol Sarang merupakan tradisi turun-temurun masyarakat nelayan di pesisir timur Rembang. Lahir pada masa Kerajaan Lasem yang menjadi bagian dari Wilwatikta (Kerajaan Majapahit). Pada masa itu kriminalitas sering terjadi, Lasem sebagai pintu gerbang Wilwatikta di daerah pesisir memiliki peran penting sebagai pertahanan dari serangan musuh. Prabu Hayam Wuruk memerintahkan Dewi Indu (Bhre Lasem) untuk membentuk armada laut. Akhirnya ia menitahkan Sang Adik, Pangeran Sri Sawardana, untuk menjalankan perintah tersebut. Lalu sayembara dilakukan saat bulan purnama tujuh malam berturut-turut, di pantai dekat Pelabuhan Tuban dengan keikutsertaan para pendekar tangguh dari seluruh penjuru wilayah Kerajaan Lasem. Pertandingan gulat dilakukan menggunakan tali kapal yang diikatkan ke masing-masing pinggang pendekar. Pertandingan dimenangkan apabila salah satunya berhasil mathol (mengunci) lawan dan menjatuhkannya ke pasir, sehingga dinamakan pathol. Keberhasilan itu diikuti para saudagar di wilayah sekitar untuk mencari pendekar pathol yang akan menjaga harta bendanya. Eksistensi pathol bertahan dari masa ke masa di sepanjang pesisir bekas wilayah Kerajaan Lasem. Hingga kini keberadaannya menyempit di Kecamatan Sarang, sehingga dinamakan Pathol Sarang. Kini Pathol Sarang menjadi tradisi seni pertunjukan ikon Kabupaten Rembang, serta berfungsi sebagai penanda menuju kedewasaan anak laki-laki di wilayah setempat.

PROLOG

Sore hari ditemani jus buah Kawis yang berwarna cokelat kehitaman, Dlofar dan Lathif duduk di bawah pohon Kawis yang rimbun. Mereka beristirahat di sebuah rumah makan bergaya tradisional Tiongkok, menyantap hidangan sayur mangut dan urap latoh yang menjadi ciri khas Kabupaten Rembang. Wajar apabila mereka merasa sedikit kelelahan, sebab hampir seharian berkeliling Rembang dan Lasem.

Keduanya merupakan Mahasiswa Program Studi Sejarah di salah satu universitas di Kota Solo. Salah satu mata kuliah di semester enam yang mereka ambil adalah Museologi, keduanya mendapatkan tugas mempelajari pengelolaan Museum R.A. Kartini Rembang. Tentu saja karena dosen mengetahui bahwa salah satunya berasal dari Rembang, jadi akan lebih mudah dalam melaksanakannya. Dlofar asli Rembang yang sedikit banyak sudah mengetahui daerahnya, sedangkan Lathif berasal dari wilayah Pesisir Selatan Pulau Jawa.

Kilas balik, keesokan hari setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan dari Solo, mereka menuju ke Museum R.A. Kartini Rembang untuk mendapatkan informasi yang ditugaskan. Setelah selesai, Lathif yang baru pertama kali ke Rembang merasa penasaran dengan destinasi yang ada di sana. Dlofar cukup paham dengan hal itu kemudian mengajak Lathif untuk berkeliling ke beberapa destinasi. Situs Perahu Kuno Punjulharjo menjadi lokasi kedua yang mereka datangi. Setelah itu ke Pusat Konservasi Mangrove dan Pantai Karang Jahe yang masih berada dalam satu wilayah. Perjalanan berlanjut ke Pasujudan Sunan Bonang dan Situs Watu Layar. Selanjutnya mereka menghabiskan waktu untuk berkeliling menikmati suasana pusat Kecamatan Lasem, sebuah kota pusaka dengan julukan Tiongkok Kecil Heritage yang masih menjadi bagian dari Kabupaten Rembang. Perjalanan berakhir di rumah makan kawasan pecinan Lasem.

Kegiatan menikmati hidangan telah selesai, namun mereka tidak langsung beranjak pergi, melainkan dilanjutkan dengan mengobrol santai. Lathif mengungkapkan rasa kekagumannya terhadap Kabupaten Rembang, terkhusus Lasem. Ia sering menemukan dari berbagai literatur tentang keunikan akulturasi budaya, beragam tradisi, serta sejarah di wilayah Lasem.

"Dlof, Rembang menarik ya dengan potensi alam dan budayanya. Apalagi Lasem punya batik yang mencerminkan akulturasi budaya di sini," ungkap Lathif dengan rasa kagumnya.

"Iya benar. Bahkan potensi sejarah dan budaya di sini sudah ada sejak zaman dulu lho. Mulai dari zaman purba pada masa megalitikum, ada dua bukti kebudayaan yaitu Situs Terjan dan Situs Plawangan di wilayah Pegunungan Argopuro Lasem. Lalu pada masa Hindu-Budha, Lasem menjadi salah satu kerajaan vasal terpenting Kerajaan Majapahit. Selain itu Lasem juga menjadi tempat pendaratan etnis Tionghoa pertama di Pulau Jawa yang akhirnya mengenalkan cara membatik kepada penduduk setempat. Hal itulah yang turut memberikan corak khas pada batik lasem itu. Masa kerajaan Islam di Jawa, Lasem juga memiliki peran penting terhadap pemerintahan. Lalu masa kolonial hingga perang kemerdekaan juga ada peristiwa penting di sini, menjadi bukti bersatunya berbagai etnis dan golongan melawan penjajahan, Perang Kuning," jawab Dlofar panjang lebar.

"Enak ya, pantas saja kamu mengambil jurusan sejarah, latar belakang daerahmu sangat mendukung sih," Lathif menimpali diiringi dengan tawanya.

Percakapan tersebut membuat Dlofar teringat suatu hal, "Oh ya, berbicara mengenai potensi sejarah dan budaya aku jadi teringat dengan tradisi yang lahir dari folklor dan masih lestari di sekitar sini. Kamu tahu Sumo tidak?"

"Ya tahu lah, itu semua orang juga pasti tahu. Memangnya ada apa?" Tanya balik Lathif.

"Nah di sini juga ada seni gulat semacam Sumo, tapi bedanya para pemain tidak harus berbadan besar. Seni ini lahir dari folklor yang kemudian berkembang menjadi tradisi masyarakat nelayan, bahkan telah menjadi salah satu ikon Kabupaten Rembang di berbagai acara penting," penjelasan Dlofar.

"Apa itu?" Penjelasan dari temannya membuat Lathif menjadi penasaran.

"Namanya Pathol Sarang. Aku ceritakan ke kamu ya. Sebenarnya ada dua versi mengenai ini, namun aku akan mengambil versi yang paling masyhur. Menurutku pribadi kedua versi itu ada kaitannya," jawab Dlofar menawarkan kepada Lathif.

Lalu Lathif mempersilakan dengan antusias, "Boleh-boleh.” Kemudian Dlofar menceritakan folklor mengenai Pathol Sarang kepada temannya itu.

“Jadi, ceritanya bermula seperti ini...”

ISI

Pada masa kejayaan Hindu-Budha di Pulau Jawa, Wilwatikta (Kerajaan Majapahit) berkembang menjadi sebuah kerajaan besar dan memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Pada awal pendiriannya pusat pemerintahan terletak di Mojokerto, lalu berpindah ke Trowulan di bawah pemerintahan Jayanegara. Meskipun begitu, pusat pemerintahan yang sempat berpindah tetap membuat Majapahit sebagai kerajaan bercorak agraris, sebab keduanya sama-sama berada di tengah Pulau Jawa dan mata pencaharian utama penduduknya adalah bertani. Corak agraris tidak lantas menandakan bahwa Majapahit tidak memiliki wilayah perairan atau laut. Roda pemerintahan Kerajaan Majapahit dengan wilayahnya yang sangat luas dibantu oleh beberapa kerajaan vasal (bawahan) di berbagai tempat.

Pada masa Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara), Akuwu Lasem yang dipimpin oleh Mpu Metthabadra berhasil ditaklukkan oleh Gajah Arya (Patih Gajah Mada) menjadi bagian dari Wilwatikta. Kerajaan Lasem dengan pusatnya di Bhumi Kriyan menjadi salah satu kerajaan vasal yang sangat penting bagi Majapahit. Dewi Indu (Duhitendu Dewi) dikukuhkan pada tahun 1273 Saka (1351 M) untuk memimpin Lasem dengan gelar Bhre Lasem I Dewi Indu Purnamawulan. Ia merupakan adik sepupu Hayam Wuruk dan istri dari Rajasa Wardhana yang merupakan Bhre Metaun. Kelak salah satu putra mereka menjadi suami dari putri Hayam Wuruk, Kusuma Warhani, yang juga merupakan penerus kekuasaan di Lasem secara langsung.

Kondisi Lasem pada masa Dewi Indu berkembang menjadi kerajaan besar yang masyhur, meskipun statusnya di bawah kekuasaan Majapahit. Wilayahnya yang meliputi pesisir sampai pedalaman, menjadikan mayoritas mata pencaharian masyarakatnya adalah nelayan dan petani, serta pengrajin untuk beberapa daerah. Siwa dan Budha menjadi agama resmi kerajaan. Penataan kota di pemukiman penduduk, jalan-jalan, taman-taman, hingga keraton sangat rapi dengan berbagai macam pepohonan yang rimbun membuat suasana asri dan teduh.

Sebagai kerajaan yang memiliki wilayah pesisir, Kerajaan Lasem berfungsi sebagai gerbang masuknya para pedagang dari daratan China, India, dan Persia menuju ke pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit di Trowulan. Wilayah kekuasan Lasem yang meliputi sekitar Lasem, Tuban, hingga Pacitan membuatnya memiliki pelabuhan yang sangat besar. Tiga pelabuhan utama yang dimiliki Lasem adalah Pelabuhan Kaeringan, Pelabuhan Regol –di sekitar Sungai Bonang– dan Pelabuhan Tuban sebagai pelabuhan terbesarnya.
Suasana Pantai Bonang Binangun Saat Ini, Pada Zaman Dahulu Pernah Menjadi Pusat Kerajaan Lasem - Kholil Media ID
Suasana Pantai Bonang Binangun Saat Ini, Pada Zaman Dahulu
Pernah Menjadi Pusat Kerajaan Lasem - Kholil Media ID
Sudah menjadi hal yang wajar pada masa itu bahwa wilayah kekuasaan suatu kerajaan diperebutkan oleh kerajaan lain untuk ditaklukkan. Selain itu banyak pemberontakan dan perampokan serta tindakan kriminal lainnya yang merugikan rakyat, tidak terkecuali dengan Majapahit. Sebagai seorang raja, Prabu Hayam Wuruk juga merupakan ahli politik dan pengatur strategi yang ulung. Masalah-masalah itu tidak luput menjadi perhatian dalam mengatur pemerintahan di wilayah kekuasannya.

Pada suatu hari Dewi Indu mendapatkan surat dari patihnya. Ia secara khusus dipanggil untuk menghadap Prabu Hayam Wuruk ke Istana Trowulan. Bersama beberapa prajuritnya ia menuju ke pusat pemerintahan Majapahit itu. Sesampainya di Trowulan dan menghadap raja di ruangan khusus tamu penting kerajaan, Prabu Hayam Wuruk membicarakan hal yang sangat serius dan cukup lama dengannya. Inti dari pembicaraan mereka adalah perintah pembentukan prajurit khusus armada laut di wilayah pesisir kekuasaannya.

“Hamba menghadap, Prabu,” ucap Dewi Indu ketika berhadapan dengan Prabu Hayam Wuruk, tegas namun tetap dengan penghormatannya.

“Silakan duduk!” Prabu Hayam Wuruk mempersilakan dengan tangan mengarah ke kursi dan meja yang megah.

“Dewi, aku memintamu kemari karena ada hal yang sangat penting demi keamanan Majapahit. Lasem wilayah kekuasaanmu merupakan gerbang kerajaan ini, sehingga pertahanannya haruslah ditingkatkan,” lanjut Prabu Hayam Wuruk.

“Lantas apa yang harus hamba lakukan, Prabu?” Dewi Indu bertanya.

“Perompak dan perampok sering menyerang wilayah laut dan pesisir. Penyerangan dari kerajaan lain juga sangat mungkin terjadi sewaktu-waktu. Maka sebaiknya kerajaanmu membentuk pasukan khusus untuk menjaga dan mengawasinya,” jawab Prabu Hayam Wuruk menjelaskannya.

Sebagai pemimpin dan perempuan yang cerdas, Dewi Indu merasa cukup jelas dengan perintah tersebut. Maka ia bersama para pengawalnya segera kembali ke Lasem. Setiba di Lasem ia langsung menitahkan salah satu patihnya untuk menghubungi Sang Adik, Pangeran Sri Sawardana, yang mengurus wilayah Tuban.

Mendengar maksud Patih Lasem, Pangeran Sri Sawardana sesegera mungkin menuju ke Lasem bertemu Sang Kakak. Ia bersama para pengawalnya sampai di keraton dan obrolan mengenai maksud Prabu Hayam Wuruk dirundingkan di sana. Obrolan tidak hanya dilakukan antara Dewi Indu dengan Pangeran Sawardana, namun para pengawal yang ikut serta juga diajak di dalamnya. Pangeran Sawardana memiliki pemikiran yang cemerlang. Atas seizin kakaknya, ia berencana menyelenggarakan sayembara untuk mendapatkan bibit pendekar terbaik yang akan dijadikan pasukan khusus armada laut yang tangguh.

Di suatu malam bulan purnama, Pangeran Sawardana mengumpulkan seluruh penggawa (hulubalang) dari berbagai penjuru wilayah Kerajaan Lasem. Mereka semua berkumpul di pantai dekat Pelabuhan Tuban. Pada kesempatan itu ia menyampaikan maksud kepada seluruh penggawa. Para penggawa itupun mengangguk-angguk menandakan bahwa mereka paham maksud Sang Pangeran. Akan tetapi, tidak sampai di situ saja karena masih ada hal yang belum dipikirkan. Sang Pangeran masih bingung mengenai konsep yang akan dilakukan dalam sayembara tersebut. Lalu pangeran membuka kesempatan kepada para penggawa untuk memberikan masukan konsepnya.

“Tapi masih ada satu hal yang belum selesai dengan sayembara ini. Seperti apa sayembara akan dilaksanakan?” tanya Pangeran Sawardana sambil mengedarkan pandangannya kepada para penggawa. Salah satu penggawa dari sekitar Lasem mengangkat tangannya, kemudian dipersilakan Pangeran Sawardana untuk menyampaikan maksudnya.

“Saya ada usul, Pangeran. Jadi nanti kita akan menyebarkan kabar sayembara ini ke seluruh wilayah. Nanti mereka yang berminat mengikuti sayembara ini akan dipertandingkan satu lawan satu menggunakan senjata pedang dan keris,” ucap penggawa tersebut.

“Saya setuju dengan usulan tersebut, berita diadakannya sayembara akan disebarkan ke seluruh penjuru dan terbuka untuk siapa saja,” seorang penggawa dari Pacitan menanggapi. “Tapi saya kurang setuju dengan pertandingan menggunakan senjata. Karena yang akan dibentuk adalah armada laut, pasukan yang memiliki tugas khusus menjaga Lasem juga Majapahit. Tugasnya tidak hanya akan di pesisir (darat) tapi juga di laut di kapal-kapal, melawan para perompak. Jadi yang kita butuhkan adalah mereka para pendekar yang memiliki fisik tangguh dan ilmu kanuragan yang tinggi, tanpa harus menggunakan senjata mereka harus bisa mengalahkan musuh dan mempertahankan dirinya sendiri,” tambah penggawa tersebut yang membuat para penggawa lainnya serta Pangeran Sawardana menggangguk-angguk, menyatakan kesetujuannya.

“Saran yang sangat bagus. Setelah sempat ku pertimbangkan, kita akan membuat sayembara dengan pertandingan tanpa senjata satu lawan satu. Hingga nantinya menemukan pendekar yang paling tangguh dari seluruh negeri, sesuai dengan jumlah yang kita perlukan. Satu-satunya senjata yang akan mereka gunakan adalah tali kapal yang akan diikatkan ke masing-masing pinggang pendekar. Mereka akan bergulat, sebagai tanda kemenangan mereka harus bisa mengalahkan lawan dengan cara menjatuhkan tubuh lawannya ke pasir. Mereka yang memiliki fisik kuat dan kanuragan tinggi tidak akan mudah dijatuhkan lawan,” Pangeran Sawerdana menjelaskan konsep yang didapatnya dengan menyatukan saran para penggawa.

“Selepas pulang dari sini segera sampaikan kepada seluruh penduduk di wilayah kalian masing-masing tentang sayembara pencarian pendekar ini. Sayembara akan dilaksanakan di pantai sini satu bulan lagi,” lanjut Sang Pangeran yang ditanggapi dengan anggukan mantap para penggawa.

Pertemuan itu selesai dan semua penggawa diajak menuju kediaman Pangeran Sawerdana untuk diberikan jamuan spesial. Keesokan harinya mereka kembali ke daerahnya masing-masing. Tidak menunggu waktu lama, kabar mengenai sayembara segera menyebar ke seluruh penjuru Lasem. Segala sesuatu mengenai sayembara mulai banyak dijadikan bahan obrolan di setiap pertemuan kecil para penduduk.

Dlofar menghentikan cerita sebentar untuk menyeruput jus Kawis yang masih tersisa. Lalu melanjutkan cerita kembali karena melihat Lathif yang sudah menunggu, penasaran dengan kelanjutan ceritanya.

Para pendekar yang juga mendengar kabar itu mulai melatih fisik dan ilmu kanuragannya. Banyak dari mereka yang menjalankan laku pasa (berpuasa) dan laku tapa (bertapa). Bahkan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menjadi sakti mandraguna. Pohon kelapa yang besar dan tinggi menjulang dapat dengan mudahnya dicabut hingga ke akar  dari tanah, hanya dengan satu tangan. Mereka semua memiliki harapan yang sama, terpilih menjadi pasukan khusus kerajaan.

Dewi Indu pun tidak main-main dalam mempersiapkan sayembara ini. Mereka yang nanti terpilih akan diberikan tempat khusus oleh kerajaan serta yang sudah berkeluarga akan dijamin kesejahteraan keluarganya. Tentunya pasukan khusus armada laut ini akan memiliki kedudukan yang dihormati oleh semua masyarakat.

Di sisi lain, sejatinya masyarakat serta pendekar yang akan turut serta dalam sayembara ini memiliki niat yang tulus di hatinya. Mereka benar-benar mengikuti ini sebagai bentuk kesetiaan terhadap kerajaan, hingga berharap bisa berjuang penuh untuk tetap membela keamanan dan pertahanan secara langsung. Rasa cinta dan memiliki mereka terhadap Wilwatikta dan Lasem secara khususnya tidak perlu diragukan lagi.

Satu bulan telah berlalu. Tepat di pertengahan bulan, sejak pagi buta sudah banyak pendekar yang mendaftar sayembara berkumpul di pantai dekat Pelabuhan Tuban. Jumlahnya ribuan ditambah dengan banyaknya masyarakat umum yang ingin menyaksikan jalannya sayembara ini.

Riuh-riuh terdengar seharian penuh. Tepat malam hari ketika bulan purnama tampak jelas dan bersinar terang, Pangeran Sawardana membuka sayembara itu dengan suara lantang diiringi gong yang bergema beberapa kali. Prabu Hayam Wuruk beserta Dewi Indu menyaksikan langsung di kursi khusus yang telah disiapkan. Beberapa pejabat penting dari Wilwatikta dan Lasem tak luput menyaksikan acara besar itu.

Salah satu Patih Lasem membacakan peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap peserta dan masyarakat yang menyaksikan. Dua peserta pertama maju ke tengah arena pertandingan yang dikelilingi nyala obor, lalu dua Prajurit Lasem memasangkan tali kapal ke masing-masing peserta. Pertandingan dimulai setelah mendapatkan aba-aba dari prajurit penengah. Pertandingan berlangsung dengan sangat meriah, sorak sorai masyarakat memberikan dukungan ke masing-masing pendekar jagoannya. Alunan musik gamelan mengiringi selama pertandingan berlangsung.

Kedua pendekar menyatukan bahu. Kepala mereka masing-masing menyilang ke arah kanan dan kiri lawan tanding, tangannya memegang tali kapal di pinggang lawan. Awal permainan di mulai, keduanya lebih memilih untuk bertahan. Setelah itu serangan-serangan dimulai, dorongan kuat ke arah lawan diberikan secara terus-menerus oleh salah satu pendekar. Lalu pendekar lawannya memundurkan satu kaki jauh ke belakang dengan kencang, agar mendapat pijakan pasir dan tenaga lebih untuk mempertahankan diri.

Sampai di sini, ilmu kanuragan dari masing-masing pendekar mulai dikeluarkan. Laku pasa dan laku tapa yang telah mereka amalkan jauh hari sebelum sayembara mulai berguna. Pendekar yang sebelumnya mendapatkan serangan bertubi-tubi kini berhasil membalikkan keadaan. Pendekar lawan mulai kepathol, tenaga dan ilmunya sudah tidak sanggup mengimbangi untuk membuka patholan itu.

Tanda pertandingan akan usai apabila ada peserta yang berhasil kepathol (terkunci) sehingga tidak bisa melakukan perlawanan lagi. Pendekar yang dominan dan berhasil mathol (mengunci), kemudian mengangkat lawan tinggi-tinggi sebelum akhirnya menjatuhkannya ke pasir. Maka setelah itu prajurit penengah akan menghentikan pertandingan. Setelah ada pemenang dilanjutkan pertandingan berikutnya dengan dua pendekar yang sama-sama belum bergulat. Hal yang sama berlangsung seterusnya.

Teknik pathol (kuncian) yang berlaku di pertandingan inilah yang selanjutnya menjadi sebutan untuk pertandingan serupa. Sebutan pathol juga berlaku bagi para pendekar yang bertanding. Tidak ada sistem berdarah dalam pertandingan ini, sebab peraturan yang dibuat adalah mereka boleh mengalahkan lawan namun dilarang untuk saling membunuh. Baik pendekar yang menang maupun yang kalah dalam pertandingan pathol itu tetap terjaga dengan baik kehormatannya. Semua pendekar dan masyarakat yang menyaksikan juga memperoleh jamuan dari pihak Kerajaan Lasem.

Pertandingan pathol hanya berlangsung pada malam hari sampai menjelang waktu subuh. Pertandingan tidak dilaksanakan ketika matahari terbit sampai sebelum terbenam. Sayembara ini berlangsung meriah hingga tujuh malam berturut-turut. Di hari terakhir penutupan sayembara telah terpilih ratusan pendekar terbaik, mereka sekaligus dikukuhkan oleh Prabu Hayam Wuruk dan Dewi Indu sebagai prajurit khusus armada laut. Pesta besar-besaran menutup rangkaian acara tersebut.

Armada laut yang telah terbentuk selanjutnya dibagi menjadi beberapa kelompok untuk ditempatkan pada setiap pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Lasem. Penempatan utama adalah di Pelabuhan Tuban sebagai pelabuhan terbesarnya, lalu diikuti Pelabuhan Kaeringan dan Pelabuhan Regol yang paling dekat dengan pusat Kerajaan Lasem. Selebihnya ditempatkan di pelabuhan yang lebih kecil, serta daerah pesisir yang tidak memiliki pelabuhan.

Terbentuknya armada laut yang tangguh membawa dampak positif bagi Kerajaan Lasem, sekaligus bagi Wilwatikta. Upaya perompakan kapal dagang di laut selalu berhasil digagalkan, serta mereka menangkap para perompak untuk dibawa ke pengadilan kerajaan. Begitu pula perampokan serta tindak kriminal lainnya di wilayah pesisir Kerajaan Lasem, selalu berhasil ditangani oleh armada laut. Sehingga kedamaian tercipta bagi kehidupan kerajaan dan masyarakat setempat.

Keberhasilan kerajaan dalam menyelenggarakan sayembara pathol hingga terpilih para pendekar hebat dari berbagai penjuru, membuat kekaguman tersendiri bagi ningrat golongan saudagar atau juragan –yang bukan pegawai kerajaan– di wilayah itu. Langkah tersebut kemudian ditiru oleh para saudagar dan juragan itu. Mereka akhirnya melakukan sayembara pathol yang serupa untuk memilih pendekar-pendekar tangguh nan sakti mandraguna (para pathol). Nantinya pathol yang terpilih akan dijadikan sebagai pelindung diri, keluarga, usaha dan kekayaan mereka. Pada umumnya para ningrat tersebut adalah mereka yang memiliki usaha perdagangan di pelabuhan atau yang memiliki kapal-kapal besar.

Pertandingan pathol terus dilakukan di daerah sepanjang pesisir utara Pulau Jawa yang masih termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Lasem. Pathol berkembang sepanjang pesisir Gresik hingga Jepara. Satu hal yang pasti bahwa pertandingan pathol selalu dilaksanakan di setiap bulan purnama. Pelaksanaan pathol dianggap sebagai kegiatan sakral. Pertandingan tersebut terus bertahan hingga ke masa-masa selanjutnya. Termasuk saat Lasem diperintah oleh Pangeran Wirabajra dengan Islam sebagai agama resminya, serta ketika Pangeran Wiranagara yang menjadi raja terakhir Kerajaan Lasem sekaligus adipati pertama Kadipaten Lasem, pertandingan pathol untuk mencari pendekar terbaik terus dilakukan.

Pertandingan ini mulai berubah ketika masa penjajahan datang. Beberapa waktu setelah kedatangannya, para penjajah menyadari keberadaan pathol yang berbahaya. Mereka memiliki kekhawatiran akan adanya perlawanan apabila para pathol bersatu. Sifat licik penjajah mulai muncul, mereka menerapkan sistem politik adu domba (divide et impera). Sehingga terjadinya pecah belah di antara para pathol. Ada tiga golongan yang akhirnya muncul; pertama yaitu pathol yang menyembunyikan identitasnya sebagai pathol agar tidak diketahui penjajah, kedua pathol yang menggunakan kemampuannya untuk melawan penjajah, dan yang ketiga yaitu pathol yang bersedia kompromi dengan penjajah.

Pathol yang mau berkompromi, yaitu mereka melakukan pertandingan yang diadakan penjajah dengan mengharapkan procent (imbalan) yang tinggi. Mereka tak ubahnya sebagai bahan tontonan yang direndahkan. Namun ternyata masa itu tidak berlangsung lama. Pathol yang sempat terpecah akhirnya saling menyadari bahwa itu merupakan taktik licik para penjajah. Kesadaran mereka terwujud dengan akhirnya turut mempergunakan kemampuan untuk melakukan perang melawan penjajah.

Ketika terjadi Perang Kuning di wilayah Lasem - Rembang, muncullah para pemimpin besar yang mewakili tiap-tiap golongan, yaitu Kiai Ali Badawi tokoh Islam dari golongan kiai/santri; Raden Panji Margono, Cakraningrat IV, dan Tumenggung Citrasoma IV dari kalangan tokoh Jawa, serta Tan Kee Wie dan Oei Ing Kiat dari etnis Tionghoa. Para masyarakat di daerah tersebut bersatu, para pathol yang tangguh-tangguh juga turut bergabung menjadi penguat perlawanan terhadap penjajah. Mereka semua memiliki tekad bulat untuk membela tanah air dan menghilangkan penjajahan.

Setelah kemerdekaan, pertandingan pathol mulai berkurang dan berubah fungsinya. Kini pathol lebih berkembang menjadi tradisi yang ditampilkan dalam bentuk kesenian. Tradisi pathol banyak di jumpai di wilayah Kecamatan Sarang, terutama di Desa Temperak. Karena itulah istilah Pathol Sarang lebih dikenal, karena berkembang luas dan menjadi tradisi masyarakat nelayan di daerah sana yang dilakukan ketika ada acara-acara tertentu. Pathol Sarang juga berkembang di daerah sekitarnya, yaitu di Kecamatan Kragan.

Kini Pathol Sarang merupakan salah satu tradisi seni pertunjukan yang menjadi ikon Kabupaten Rembang. Pelaksanaan pathol yang dulunya menggunakan tali kapal, saat ini Pathol Sarang menggunakan udhet (stagen) atau selendang untuk ditalikan ke pinggang masing-masing pemain. Sedangkan sistem penyelenggaraan masih sama di pantai, akan tetapi tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu atau ketika bulan purnama. Pathol Sarang juga menjadi ekstrakurikuler di sebagian besar sekolah di daerah sana. Sehingga keberadaannya tetap lestari, bukti bahwa masih banyak pihak yang memiliki perhatian terhadap seni tradisi yang berkembang di masyarakat.

EPILOG

“Wah ceritanya ternyata sangat panjang ya. Aku kagum karena masih lestari sampai sekarang dan turun temurun menjadi tradisi masyarakat nelayan di wilayah sini,” ungkap Lathif dengan nada kagum dan penuh apresiasi.

“Iya benar. Uniknya lagi, Pathol Sarang juga berfungsi sebagai seni yang menandakan kedewasaan anak laki-laki. Hampir mirip dengan tradisi Fahombo (Lompat Batu) di Pulau Nias itu. Oh ya, versi satunya istilah pathol itu merujuk kepada para nelayan yang kesulitan menarik kapal atau perahunya untuk berlabuh, sebab talinya kepathol (terkunci). Lalu mereka meminta bantuan teman nelayan lain untuk bisa mengatasi talinya agar tidak kepathol lagi,” Dlofar memberikan penjelasan kepada temannya.

Matahari mulai tenggelam, langit juga sudah gelap digantikan oleh cahaya lampu di rumah makan itu. “Sepertinya sudah cukup lama kita beristirahat dan cerita panjang lebar. Di lain kesempatan, aku akan mengajakmu melihat secara langsung di Desa Temperak, sekalian kita jelajah lagi wilayah timur Kabupaten Rembang. Masih banyak peninggalan sejarah, budaya, dan bentang alam yang indah di daerah sana,” tambahnya.

Okelah, aku juga sudah lelah dan ingin segera beristirahat di rumahmu,” jawab Lathif menimpali.

Suara azan Magrib berkumandang tidak lama setelah Lathif berbicara. “Tuh sudah azan juga, ayo kita salat berjamaah dulu di Masjid Jami Lasem sehabis itu pulang dan beristirahat dengan tenang,” ucap Dlofar. “Ayo!”, seru Lathif. Akhirnya mereka menyudahi obrolan panjang itu, berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kasir untuk membayar hidangan yang telah mereka nikmati. Setelah naik motor, mereka menuju ke Masjid Jami Lasem untuk melaksanakan salat Magrib berjamaah. Perjalanan yang cukup melelahkan namun mengesankan pada hari itu berakhir dengan mereka beristirahat di rumah Dlofar.
***

0 komentar

Terima kasih telah berkomentar dengan bahasa yang sopan, positif, serta membangun